Program Tunasmuda Care

Pedoman Aksi T-CARE
Untuk memastikan efektivitas dari program dan penyaluran santunan yang T-CARE lakukan, T-CARE menetapkan Pedoman Aksi T-CARE sebagai berikut:

Penyaluran Santunan Oleh T-CARE
T-CARE berupaya menjaga amanah dari ratusan donatur dengan memastikan penyaluran manfaat dapat menciptakan nilai tambah yang paling bermanfaat bagi mereka yang benar-benar berhak. Berikut ini adalah program penyaluran santunan yang T-CARE lakukan.

T-CARE secara rutin setiap bulannya menyalurkan santunan dan beasiswa pendidikan bagi putra-putri yatim dan dhuafa. Saat ini pendampingan T-CARE meliputi kurang lebih 200 orang putra-putri yatim berusia 6-12 tahun yang tersebar di wilayah Jabodetabek. T-CARE dampingi untuk memastikan kesejahteraan, kebutuhan dasar dan kebutuhan pendidikannya terpenuhi. Para peserta program ini juga direncanakan dapat mengikuti program-program T-CARE di jenjang selanjutnya, hingga akhirnya dapat menjadi pribadi yang mandiri.

Saat ini terdapat kurang lebih 20 Rumah Belajar Yatim (RBY) yang T-CARE dirikan melalui kerjasama dengan para pemilik rumah yang bersedia menyediakan rumahnya menjadi pusat kegiatan belajar putra-putri yatim dan dhuafa. Kegiatan belajar dilaksanakan 3-4 kali dalam satu minggu, yakni untuk kelas Tahfidz dan Tajwid mingguan, serta kelas pendampingan akademik. Donasi dari para donatur disalurkan untuk kebutuhan fasilitas pendidikan dan kegiatan operasional Rumah Belajar Yatim tersebut.

T-CARE berupaya untuk merangkul semua pihak yang membutuhkan kesetaraan akses pendidikan, termasuk penyandang disabilitas. Donasi dari para donatur disalurkan dalam bentuk fasilitas pendidikan khusus, Al-Quran dan buku pengetahuan braille, beasiswa metode pembelajaran efektif bagi anak berkebutuhan khusus, program-program penyaluran terkait lainnya.

Seiring dengan terjadinya bencana alam pada beberapa waktu terakhir, T-CARE turut menyalurkan donasi dari para donatur untuk pendirian kelas darurat dan trauma healing. Hal ini bertujuan agar anak-anak korban bencana alam tetap dapat mendapatkan pendidikan, serta dapat melupakan traumanya atas bencana yang terjadi. Selanjutnya para korban bencana alam tersebut juga mendapat perhatian khusus untuk terlibat dalam program T-CARE lainnya.


Program Berkelanjutan T-CARE
Selain program santunan, T-CARE juga menginisiasi dan mengembangkan program-program berkelanjutan yang bertujuan menciptakan proses dari hulu ke hilir (end to end process) guna mendukung bertumbuhnya generasi muda Indonesia yang berprestasi, mandiri dan berakhlak mulia.

Untuk mengembangkan karakter dan kepemimpinan di diri generasi muda, khususnya pada jenjang SMP-SMA, T-CARE secara rutin menyelenggarakan SUPERCAMP. Dalam acara yang berlangsung selama 2-3 hari tersebut, para peserta akan ditantang untuk meningkatkan kekompakan, tenggang rasa, kreativitas, serta soft skill utama lainnya. Program ini dibuat berbayar, dengan keuntungan digunakan untuk mendanai penyaluran santunan oleh T-CARE kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam membantu menciptakan generasi muda yang mandiri, maka kewirausahaan adalah kuncinya. T-CARE mengimplementasikan program pelatihan, pendampingan dan pemodalan wirausaha. Program ini difokuskan bagi siswa/siswi tingkat SMA/SMK yang mulai beranjak dewasa dan harus mulai benar-benar mandiri, khususnya bagi putra-putri yatim dan dhuafa. Para peserta dipasangkan dengan mentor yang sudah berpengalaman dalam menjalankan usaha, serta dikenalkan dengan calon investor yang siap mendanai proyek-proyek sosial kewirausahaan yang tidak hanya bernilai ekonomi namun juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Di era digital dimana perkembangan teknologi semakin pesat, kebutuhan akan talenta digital juga semakin besar. Sayangnya hal ini belum dapat diimbangi dengan kemampuan dunia pendidikan dalam mencetak talenta digital yang berkualitas dan sesuai kebutuhan industri. T-CARE merangkul para praktisi digital untuk mendirikan sekolah pembelajaran digital, sehingga para putra-putri yatim dan dhuafa bisa mendapat beasiswa untuk mengikuti sekolah tersebut dan menjadi talenta digital yang handal. Secara efektif, program menggunakan kurikulum percepatan yang dilangsungkan dalam waktu 6 bulan. Alumni sekolah digital kemudian dapat menjadi instruktur bagi batch berikutnya dan menggerakkan ekosistem sekolah digital yang berkelanjutan.